Pertemuan Ke 14 Pendidikan Pancasila (PKN)/Kelas XI

 

IDENTITAS :

1. Nama Guru : Amelia Agestin, S.Pd.,

2. Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila (Pkn)

3. Kelas : XI/4/9/Ganjil

4. Pertemuan : 14

MATERI : Mencermati Produk Perundang – Undangan Yang Sesuai Bagi Masyarakat & Proses Terbentuknya Hukum/Peraturan Perundang - Undangan

CAPAIAN PEMBELAJARAN/KOMPETENSI DASAR :

1. Peserta  didik  mampu  menganalisis  produk perundang - undangan dan mengevaluasi ketidaksesuaian antar produk perundang - undangan; Serta peserta didik mampu mempraktikkan sikap dan perilaku dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

TUJUAN PEMBELAJARAN :

Mengidentifikasi hierarki/susunan peraturan perundang - undangan di Indonesia.

- Menganalisis tahapan pembuatan produk perundang – undangan.

- Menganalisis kelebihan dan kekurangan dalam produk perundang - undangan di berbagai bidang.

- Menguraikan proses pengajuan materi dalam produk perundang – undangan.

METODE PEMBELAJARAN :

- Ceramah

- Diskusi

- Pembelajaran Berbasis Inkuiri (Inquiry Based Learning)

PENGEMBANGAN MATERI :

Assalamualaikum Wr.Wb.

Bagaimana kabarnya hari ini anak – anak Ibu Kelas XI, semoga semuanya dalam keadaan bahagia dan sehat selalu, hari ini kita kembali melanjutkan Materi di Bab 2 Tentang UUD NRI Tahun 1945 & Sistem Perundang – Undangan Di Indonesia dengan fokus kepada materi mengenai (Mencermati Produk Perundang – Undangan Yang Sesuai Bagi Masyarakat & Proses Terbentuknya Hukum/Peraturan Perundang – Undangan), apakah kalian mengetahui bagaimana proses terbentuknya suatu aturan yang ada di negara kita ini ?


Pembahasan :

A. Mencermati Peraturan Perundang – Undangan

Peraturan perundang – undangan dalam suatu negara Indonesia merupakan syarat utama pembangunan hukum nasional suatu bangsa. Konsep pembentukan perundang – undangan khususnya di Indonesia haruslah memberikan perlindungan dan jaminan terhadap Hak Asasi Manusia. Sebagai dasar negara, Pancasila haruslah menjadi hal yang wajib diletakkan sebagai sumber hukum materiil dari suatu pembentukkan peraturan perundang – undangan. Karena, nilai – nilai yang terkandung di dalam Pancasila haruslah menjadi pembahasan rinci sesuai dengan landasan filosofis ataupun sosiologis. Dalam proses pembentukkan peraturan perundang – undangan yang demokratis haruslah melalui 3 tahapan, yaitu diantaranya :

A. Tahapan Sosiologis

B. Tahapan Politis

C. Tahapan Yuridis

B. Proses Terbentuknya Hukum/Peraturan Perundang – Undangan

Dalam legislatif khususnya, terjadi perubahan kewenangan membentuk undang – undang yang kekuasaan awalnya berada di tangan Presiden, kini menjadi kewenangan DPR RI. Terkadang, proses pembentukan undang – undang dalam beberapa hal juga melibatkan fungsi DPR RI & Presiden secara bersama – sama. Adapun landasan pengaturan dalam UUD NRI Tahun 1945 terkait pembentukkan perundang – undangan yaitu sebagai berikut :

A. Terdapat peralihan kekuasaan membentuk undang – undang dari Presiden kepada DPR RI. Ketentuan tersebut terdapat pada Pasal 20 UUD NRI Tahun 1945 diantaranya sebagai berikut :

1. Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang - undang.

2. Setiap rancangan undang - undang dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama - sama.

Proses pembentukkan undang – undang diatur dalam Undang – Undang Nomor 12 Tahun 2011 Perubahan Atas Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2019 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang – Undangan. Selain itu, diatur juga dalam Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah & Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Kita dapat mencermati proses pembentukan peraturan perundang – undangan di Indonesia yaitu sebagai berikut :

Proses Pembentukan Undang – Undang

1. RUU DARI PRESIDEN/DPR/DPD REPUBLIK INDONESIA

2. DUA TINGKAT PEMBICARAAN DI DPR RI

3. DISETUJUI DPR RI

4. DITANDATANGANI PRESIDEN

5. UNDANG - UNDANG

1. Perencanaan penyusunan undang – undang dilaksanakan dalam Program Legislasi Nasional (Proglegnas) yang disusun dan berasal dari DPR, DPD & pemerintah untuk jangka waktu menengah dan tahunan berdasarkan skal prioritas pembentukkan rancangan undang – undangan (RUU).

2. Setiap RUU yang diajukan wajib dilengkapi oleh naskah akademik. Kecuali, untuk beberapa hal tertentu seperti RUU Anggaran Pendapatan & Belanja Negara/Daerah, Penepatan Perppu menjadi Undang – Undang, serta Pencabutan terhadap Undang – Undang atau Perppu. Diantaranya dijelaskan sebagai berikut :

- RUU dari DPR diajukan oleh anggota komisi di DPR, Komisi, Gabungan Komisi atau Legislasi.

- RUU yang diajukan oleh presiden diajukan dengan Surat Presiden kepada pimpinan DPR dan usulannya berkaitan dengan misalnya, otonomi daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi serta pertimbangan mengenai keuangan daerah dan pusat.

- Materi muatan RUU yang diajukan oleh DPD berbentuk sama dengan yang dapat diajukan oleh Presiden. RUU tersebut dan naskah akademiknya diajukan secara tertulis oleh pimpinan DPD kepada pimpinan DPR.

3. Kemudian, RUU tersebut akan ditindaklanjuti dalam 2 tingkat pembicaraan, yaitu :

- Pembicaraan Tingkat I diadakan dalam rapat komisi, rapat gabungan komisi, rapat badan legislasi rapat badan anggaran atau rapat panitia khusus.

- Kegiatan dalam pembicaraan Tingkat I meliputi pengantar, pembahasan dan penyampaian pendapat awal.

4. Pembicaraan Tingkat II dilaksanakan dalam rapat paripurna DPR yang diantaranya dijelaskan sebagai berikut :

- Penyampaian laporan berisikan proses, pendapat awal fraksi, pendapat awal DPD, dan hasil dari pembicaraan Tingkat I.

- Pernyataan persetujuan atau penolakan dari tiap – tiap fraksi dan anggota DPR secara lisan yang diminta oleh pimpinan Rapat Paripurna.

- Pendapat akhir dari Presiden disampaikan oleh Menteri terkait yang ditugaskan.

5. Apabila tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah mufakat, keputusan diambil dengan suara yang terbanyak (Voting)

6. RUU yang telah mendapatkan persetujuan bersama dari DPR bersamaan dengan Presiden diserahkan kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang – Undang dengan disahkan melalui tanda tangan, ditambahkan kalimat pengesahan serta diundangkan dalam Lembaran Negara RI.

7. Apabila Pembahasan RUU tersebut telah memasuki pembahasan daftar inventarisasi masalah pada periode masa keanggotaan DPR saat itu, hasil pembahasan RUU tersebut disampaikan kepada DPR periode berikutnya dan berdasarkan kesepakatan DPR, Presiden dan/atau DPD, RUU tersebut dapat dimasukkan Kembali ke dalam daftar Prolegnas jangka menengah dan tahunan.

Tugas!

1. https://youtu.be/Y7spm6TdOtk Silahkan Kalian Pelajari & Tuliskan Rangkaian Prosedur Pembentukkan Perundang – Undangan dengan melihat Link Berikut!

2. Carilah 5 Contoh dari Hierarki Peraturan Perundang – Undangan Di Indonesia (Minimal Dalam Kurun Waktu 5 Tahun Terakhir)!

- Jelaskan Latar Belakang Mengapa Aturan Tersebut Ada

- Apa Kelebihan & Kekurangan Dari Aturan Tersebut Jika Disahkan Menjadi Produk Perundang – Undangan

- Uraikan Proses Pembentukkan Aturan Tersebut (Ambil Dari Berita/Artikel Terkait)

3. Jika kamu memilikki kesempatan menjadi Dewan Setingkat Legislatif ataupun Eksekutif, seperti MPR, DPR, DPD ataupun DPRD Daerah/Kabupaten/Kota, Aturan apa yang ingin kamu buat/gagas untuk kesejahteraan warga negara Indonesia ? Sertakan Alasan dan Faktor Pendukung lainnya (Materi Terkait, Undang – Undang atau Pengalaman)

 

Demikian pembelajaran kita hari ini anak – anak, semoga dapat memahami pembelajaran dengan baik terkait materi mengenai (Mencermati Produk Perundang – Undangan Yang Sesuai Bagi Masyarakat & Proses Terbentuknya Hukum/Peraturan Perundang – Undangan), sampai jumpa di pertemuan selanjutnya. Selamat melanjutkan pembelajaran individu dirumah masing-masing dan jangan lupa kerjakan tugas yang ibu berikan anak – anak ibu sayang, goodluck..

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan II Kelas XII.A2//A1//A4 (Bab I : Ber-Pancasila Dalam Keseharian Di Masyarakat)

Pertemuan II Kelas XII.A3 (Bab I "Ber-Pancasila Dalam Keseharian Di Masyarakat)

Pertemuan II Kelas XII.A6 (Bab I : Ber-Pancasila Dalam Keseharian Di Masyarakat)