Pertemuan Ke 5 Pendidikan Pancasila (PKN)/Kelas X

IDENTITAS :

1. Nama Guru : Amelia Agestin, S.Pd.,

2. Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila (Pkn)

3. Kelas : X.5/Ganjil

4. Pertemuan : 5

MATERI : Dinamika Perumusan & Pengesahan Dasar Negara

CAPAIAN PEMBELAJARAN/KOMPETENSI DASAR :

Peserta didik mampu menganalisis cara pandang para pendiri negara tentang rumusan Pancasila sebagai dasar negara; Peserta didik mampu menganalisis fungsi dan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, ideologi negara, dan identitas nasional; peserta didik mengenali dan menggunakan produk dalam negeri sekaligus mempromosikan budaya lokal dan nasional.

TUJUAN PEMBELAJARAN :

- Menganalisis cara pandang Pendiri Bangsa tentang rumusan Pancasila.

- Menganalisis fungsi dan kedudukan Pancasila sebagai dasar negara, ideologi negara, dan identitas nasional.

METODE PEMBELAJARAN :

- Ceramah

- Diskusi/Presentasi Kelompok

- Pembelajaran Berbasis Cerita/Kisah/Contoh Peristiwa

PENGEMBANGAN MATERI :

Assalamualaikum Wr.Wb.

Bagaimana kabarnya hari ini anak – anak Ibu Kelas X.5, semoga semuanya dalam keadaan Bahagia dan sehat selalu, hari ini kita akan membahas materi dinamika perumusan & pengesahan dasar negara.




Setelah Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima pada tanggal 06 Agustus 1945, kabar tersebut tersebar dan diterima oleh para tokoh kemerdekaan di tanah air. Mengetahui posisi jepang yang semakin sulit dalam perang Asia - Pasifik mendorong para tokoh nasional untuk segera menyatakan kemerdekaan dari penjajahan jepang. Dalam situasi sulit, pemerintahan kolonial jepang melalui perwira tingginya, Hisaichi Terauchi mengumumkan pembentukan sebuah panitia untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia pada 07 Agustus 1945. Lalu, pada tanggal 12 Agustus 1945 pemerintah kolonial mengumumkan keanggotaan PPKI yang berjumlah 21 orang. Ir. Soekarno ditunjuk sebagai ketua dan Mohammad Hatta ditunjuk sebagai wakilnya. Sementara itu para anggota PPKI terdiri dari Mr. Soepomo, K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, R.P. Soeroso, Soetardjo Kartohadikoesoemo, K.H. Wachid Hasjim, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Otto Iskandardinata, Abdoel Kadir, Pangeran Soerjohamidjojo, Pangeran Poerbojo, Mohammad Amir, Abdoel Abbas, Mohammad Hasan, GSSJ Ratulangi, Andi Pangerang, A.H. Hamidan, I Goesti Ketoet Poedja, Johannes Latuharhary, dan Yap Tjwan Bing. Kemudian, tanpa sepengetahuan pihak jepang, anggota PPKI ditambah sebanyak 6 orang yang terdiri dari Achmad Soebardjo, Sayoeti Melik, Ki Hadjar Dewantara, R.A.A. Wiranatakoesoema, Kasman Singodimedjo, & Iwa Koesoemasoemantri. Dengan demikian, jumlah anggota PPKI berjumlah 27 orang. Setelah BPUPKI dibubarkan, PPKI melanjutkan tugas dari BPUPKI, diantaranya yaitu mempersiapkan pelaksanaan kemerdekaan Indonesia. PPKI juga berkewajiban untuk meyakinkan rakyat di tanah air terkait kemerdekaan yang akan segera diproklamasikan. Pada saat itu, para pemuda lantas mengadakan rapat pada 15 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur, DKI Jakarta untuk mempersiapkan kemerdekaan. Rapat tersebut dipimpin oleh tokoh pemuda Chaeroel Saleh, rapat tersebut menyepakati bahwa kemerdekaan Indonesia adalah sepenuhnya kehendak rakyat Indonesia dan tidak bergantung pada restu pihak mana pun, apalagi pihak kolonial jepang. Selepas rapat tersebut, tokoh pemuda lainnya, Wikana dan Darwis, diutus untuk menemui Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta dan menyampaikan desakan para pemuda agar proklamasi kemerdekaan lekas dilakukan pada 16 Agustus 1945.

Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta menolak tuntutan para pemuda tersebut. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilakukan secara gegabah dan harus dibahas dengan para anggota PPKI yang telah terbentuk. Setelah gagal membujuk Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta, kelompok pemuda tersebut mengadakan rapat kembali. Hasil rapat tersebut memutuskan untuk membawa dan mengamankan Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta ke luar Jakarta agar terbebas dari pengaruh pihak jepang. Tepat pukul 04.30 WIB para pemuda membawa Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta ke daerah Rengasdengklok, Karawang, Provinsi Jawa Barat. Aksi ini mulanya dilakukan untuk menekan kedua tokoh tersebut agar bersedia memproklamasikan kemerdekaan sesegera mungkin di tempat itu. Akan tetapi, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta tetap kokoh menghadapi tekanan tersebut. Kabar ‘penculikan’ Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta akhirnya sampai kepada salah satu tokoh dari golongan tua, Achmad Soebardjo. Ia kemudian bertemu dengan Wikana di DKI Jakarta. Setelah mempelajari apa yang sedang terjadi, ia bersepakat bahwa kemerdekaan harus segera dideklarasikan, tetapi tetap dilakukan di DKI Jakarta. Achmad Soebardjo bersama dengan Soediro dan Jusuf Kunto akhirnya menuju Rengasdengklok untuk menjemput Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta dan membawa keduanya kembali ke DKI Jakarta. Sekembalinya rombongan ke DKI Jakarta, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta bersama para pemuda mencapai kesepakatan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia paling lambat akan dideklarasikan pada 17 Agustus 1945. Untuk mempersiapkan proklamasi kemerdekaan, mereka lantas mencari tempat aman untuk merumuskan naskah proklamasi. Perumusan naskah proklamasi terjadi di rumah milik Laksmana Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Jepang. Rumah Tadashi Maeda dipilih sebagai lokasi perumusan naskah teks proklamasi karena alasan keamanan dan kedekatan hubungan Tadashi Maeda dengan Achmad Soebarjo dan Mohammad Hatta. Dalam momen perumusan naskah proklamasi tersebut, Ir. Soekarno mempersilakan Mohammad Hatta sebagai penyusun teks proklamasi karena dipandang memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Kendati begitu, bagi Mohammad Hatta justru Ir. Soekarno yang dipandang memiliki kemampuan menulis yang lebih baik. Akhirnya, Mohammad Hatta mendikte baris - baris kalimat teks Proklamasi, sementara Ir. Soekarno yang menuliskannya. Ir. Soekarno memegang pena dan menulis teks proklamasi yang terdiri atas 2 kalimat. Kalimat pertama berbunyi, “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.” Kalimat tersebut diambil dari bagian akhir alinea ketiga Piagam Jakarta. Sementara itu, kalimat kedua yang berbunyi, “Hal - Hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan dll, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat - singkatnja,” ini merupakan pemikiran Mohammad Hatta yang kemudian mendapatkan koreksi atau perbaikan. Setelah teks proklamasi dirumuskan, para tokoh bangsa yang hadir saat itu berdiskusi terkait di mana tempat pembacaan teks proklamasi akan dilakukan. Atas pertimbangan keamanan, Ir. Soekarno memilih halaman depan kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 sebagai tempat pembacaan teks proklamasi. Teks Proklamasi kemudian dibacakan oleh Ir. Soekarno yang didampingi Mohammad Hatta tepat pukul 10.00 WIB pada 17 Agustus 1945. PPKI kemudian melakukan sidang. Sidang pertama baru digelar tepat satu hari setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 18 Agustus 1945. Sidang pertama tersebut menghasilkan beberapa putusan, yaitu diantaranya :

1. Mengesahkan Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

2. Memilih Ir. Soekarno sebagai presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden

3. Membentuk Komite Nasional untuk membantu tugas Presiden secara sementara sebelum dibentuknya MPR dan DPR.

Selanjutnya, sidang kedua terjadi pada 19 Agustus 1945 dan menghasilkan beberapa putusan, yaitu diantaranya :

1. Pembagian wilayah Indonesia yang terdiri atas delapan provinsi

2. Membentuk komite nasional di daerah

3. Menetapkan 12 departemen/kementerian dengan masing - masing menterinya.

Sementara sidang ketiga dilaksanakan pada 22 Agustus 1945 dan menghasilkan putusan, yaitu diantaranya :

1. Pembentukan komite nasional

2. Pembentukan partai nasional indonesia

3. Dan pembentukan badan keamanan rakyat atau BKR.

Contoh Soal & Pembahasan :

Soal :

1. Sidang pertama PPKI menghasilkan beberapa putusan, yaitu diantaranya sebagai berikut ?

A. Mengesahkan undang - undang dasar negara republik indonesia tahun 1945

B. Pembentukan komite nasional

C. Pembagian wilayah indonesia yang terdiri atas delapan provinsi

D. Menetapkan 12 departemen/kementerian dengan masing - masing menterinya.

E. Pembentukan partai nasional indonesia

Pembahasan :

Sidang pertama PPKI menghasilkan beberapa putusan, seperti mengesahkan undang - undang dasar negara republik indonesia tahun 1945, memilih Ir. Soekarno sebagai presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden, membentuk komite nasional untuk membantu tugas Presiden secara sementara sebelum dibentuknya MPR dan DPR. Maka, jawaban yang benar dari pertanyaan di atas yang terdapat di salah satu pilihan jawaban adalah A. Mengesahkan undang - undang dasar negara republik indonesia tahun 1945.

 

Latihan Soal :

Kerjakan Soal Berikut Dengan Benar!

1. Agar cita – cita proklamasi kemerdekaan Indonesia dapat tercapai, sikap yang sangat penting ditunjukkan oleh setiap warga negara Indonesia adalah ?

a. Mengikuti berbagai kegiatan pertandingan olahraga antarbangsa

b. Bekerja sama dengan orang lain dalam setiap kegiatan walaupun berbeda suku dan agama

c. Menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan

d. Membina persatuan dan kesatuan hanya untuk kalangan tenaga ahli dalam melaksanakan pembangunan

e. Mempelajari ilmu kewarganegaraan di lingkungan pendidikan

KESIMPULAN :

Setiap fase konseptualisasi Pancasila melibatkan partisipasi berbagai kelompok, unsur dan golongan. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam karya bersama itu ada setiap individu - individu yang memainkan peranan penting. Dalam hal ini, selain Mr. Soepomo dan Mohammad Yamin maka individu dengan peranan yang paling penting juga ialah Ir. Soekarno. Dalam lintasan panjang proses konseptualisasi Pancasila itu, dapat dikatakan bahwa 01 Juni merupakan hari kelahiran Pancasila. Pada hari itulah, rumusan 5 prinsip dasar filsafat negara dan pandangan hidup bangsa mulai menemukan bentuk awalnya dan istilah Pancasila pun mulai disebut sebagai namanya. Setelah itu, nama dan 5 sila Pancasila tersebut tidak mengalami penambahan atau pengurangan, kecuali dilakukan penyempurnaan atas tata urut dan bobot substantifnya. Meski demikian, untuk dapat diterima sebagai dasar negara, rumusan Pancasila 01 Juni itu perlu dikonsolidasi dengan mendapatkan persetujuan kolektif melalui perumusan Piagam Jakarta (22 Juni 1945), dan akhirnya mengalami perumusan final lewat proses pengesahan konstitusional pada 18 Agustus 1945 setelah Indonesia mengumumkan kemerdekaannya. Hal ini merupakan kesepakatan bersama yang dijiwai bersama dengan semangat toleransi, persatuan dan kesatuan.

 

Demikian materi kita hari ini tentang dinamika perumusan & pengesahan dasar negara, terimakasih anak – anak Ibu Kelas X.5, semoga dapat memahami materi dengan baik, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertemuan II Kelas XII.A2//A1//A4 (Bab I : Ber-Pancasila Dalam Keseharian Di Masyarakat)

Pertemuan II Kelas XII.A3 (Bab I "Ber-Pancasila Dalam Keseharian Di Masyarakat)

Pertemuan II Kelas XII.A6 (Bab I : Ber-Pancasila Dalam Keseharian Di Masyarakat)